
Oleh: CWW, Founder CWW Lawtech dan media-FORJASIB
Banyuwangi, FORJASIB – Di tengah kompleksitas pengadaan barang dan jasa (PBJ) era digital, penyedia jasa konstruksi dituntut untuk lebih adaptif dan strategis, terutama saat proyek mengalami stagnasi. Dalam konteks pengadaan modern yang serba cepat, respons terhadap proyek mandek bukan sekadar soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi soal menegaskan profesionalisme, ketahanan manajerial, dan kedewasaan kontraktual.
1. Diagnosa Akar Masalah: Jangan Menebak, Harus Tepat
Langkah awal adalah audit internal. Penyedia wajib mengidentifikasi sumber keterlambatan secara objektif dan sistematis. Gunakan tools seperti Fishbone Diagram dan teknik 5 Whys. Libatkan semua pemangku kepentingan mulai dari manajer proyek, pengawas lapangan, hingga subpenyedia dalam sesi evaluasi.
“Analisa penyebab bukan untuk menyalahkan, tapi untuk menyembuhkan,” ujar CWW, pendiri CWW Lawtech.
2. Revisi Baseline: Realita Baru, Rencana Baru
Setelah masalah ditemukan, baseline proyek harus diperbarui. Ini mencakup penyesuaian durasi, alokasi sumber daya, dan jadwal milestone. Gunakan perangkat seperti Microsoft Project atau Primavera P6. Jangan lupa, rebaselining bukan kelemahan, tapi bentuk agility.
Penjadwalan ulang perlu persetujuan bersama dengan pihak pengguna jasa. Workshop baseline baru sangat disarankan.
3. Bangun Komunikasi Sistemik: Proyek Tidak Boleh Jalan di Kegelapan
Komunikasi yang buruk kerap menjadi penyebab utama stagnasi. Penyedia harus menetapkan protokol komunikasi yang jelas, memilih platform resmi, dan menghapus jalur informal yang rentan miskomunikasi.
Implementasi dashboard real-time, notifikasi otomatis, dan issue log bersama menjadi instrumen wajib di era PBJ digital.
4. Negosiasi Ulang Kontrak: Bangun Ulang Fondasi Profesionalisme
Kontrak adalah fondasi kolaborasi. Saat proyek terkendala, penyedia perlu menyusun argumentasi berbasis data dan mengusulkan amandemen kontrak.
Penyedia juga disarankan menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) baru, serta klausul risiko baru yang lebih realistis. Melibatkan penasihat hukum sangat dianjurkan untuk memperkuat posisi negosiasi.
5. Eksekusi Cepat dan Monitoring Ketat: Bangkit Dengan Aksi
Dengan baseline baru dan kontrak yang diperbaharui, penyedia harus segera menjalankan tindakan perbaikan. Gunakan metode Earned Value Management (EVM) untuk mengukur progres dan efisiensi biaya. Tim khusus untuk quick wins menjadi kunci pemulihan awal.
Laporan periodik, dashboard KPI, dan sistem feedback mingguan perlu dijadikan budaya baru dalam pengelolaan proyek.
Epilog: Ketika Mandek Menjadi Momentum Naik Kelas
CWW menegaskan bahwa penyedia tidak boleh terjebak dalam stigma proyek terhenti sebagai aib. Sebaliknya, ini adalah peluang untuk memvalidasi kualitas manajemen, kekuatan kolaborasi, dan fleksibilitas organisasi.
“Krisis proyek adalah ujian leadership dan profesionalisme penyedia. Jika ditangani dengan presisi, maka proyek mandek bisa menjadi tonggak pertumbuhan dan reputasi baru di mata klien dan stakeholder,” pungkasnya.
Penyedia jasa konstruksi di Banyuwangi dan sekitarnya diharapkan dapat menjadikan kelima strategi ini sebagai bagian dari sistem manajemen internal. Di era Perpres 46 Tahun 2025, hanya penyedia yang mampu berpikir strategis dan bertindak sistematis yang akan mampu bertahan dan berkembang.
Salam Transformasi Pengadaan,
Redaksi FORJASIB