0 5 min 2 bulan

Gambar : gedung microsoft yang dihantam rudal Iran.


Oleh: CWW (Founder FORJASIB & Praktisi Hukum Technology & Bisnis di cww-Lawtech)
FORJASIB, Banyuwangi – Opini Editorial

Dalam sunyi yang terusik denting notifikasi, dunia seakan tak pernah benar-benar hening. Bukan karena berita penting, tapi karena kebisingan yang sistematis. Kita telah memasuki era di mana informasi bukan hanya alat pencerdasan, tapi juga senjata propaganda. Dan seperti yang dikaji dalam laporan Reuters Institute, fenomena kelelahan notifikasi bukan lagi sekadar keluhan pengguna, tapi menjadi tantangan peradaban digital yang perlu direnungkan.

? Notifikasi: Dari Pengingat Menjadi Pelumpuh Pikiran

Ratusan notifikasi harian yang menyergap layar kita, seringkali tidak lahir dari urgensi informasi, melainkan dari hasrat algoritma untuk memenangi perhatian. CNN Indonesia, Jerusalem Post, BBC News, hingga Sky News — semua berlomba menjadi yang pertama memberi kabar. Namun tak sedikit yang menjelma jadi penyebar kecemasan, lewat konten negatif, clickbait, hingga jebakan langganan berita berbayar.

Kita menyaksikan banyak penerbit kini tidak lagi berlomba pada akurasi atau relevansi, tapi pada kecepatan dan kuantitas. Padahal, sebagaimana disinggung oleh Nick Newman dalam studi Reuters, notifikasi yang tidak relevan adalah bentuk kegagalan dalam memahami audiens.

Di sinilah kita diuji: mampukah kita memilah mana informasi dan mana manipulasi?

? Literasi Digital adalah Ibadah Akal

Sebagaimana fiqih muamalah mengajarkan bahwa setiap transaksi harus jelas (bain al-bayyinah), maka begitu pula dalam urusan informasi: setiap kabar yang masuk ke dalam hati harus terverifikasi. Maka, menyaring informasi adalah bagian dari ibadah nalar.

Dalam konteks ini, saya sebagai bagian dari komunitas literasi Banyuwangi dan penggerak pengadaan transparan, mengajak seluruh masyarakat untuk lebih tafakkur digital. Jangan biarkan jari lebih cepat dari pikiran, atau kita akan menjadi korban perang narasi yang tidak kita sadari.

?️ Perang Israel-Iran: Diplomasi Militer dalam Bentuk Notifikasi

Kita tidak sedang paranoid. Kita sedang membuka mata. Fakta menunjukkan bahwa banyak algoritma platform media sosial besar kini telah menjadi ladang operasi intelijen terbuka. Perang Israel-Iran bukan hanya terjadi di langit dan gurun, tapi juga di layar dan linimasa.

Dalam hal ini, platform sosial media seperti “X” (sebelumnya Twitter) layak diapresiasi. Meski penuh perdebatan, X sejauh ini masih menjadi ruang publik digital paling faktual, terbuka, dan adil dalam menyajikan berbagai perspektif global. Ini berbeda dengan platform lain yang ditengarai telah dikuasai oleh narasi tunggal, bahkan digunakan sebagai proxy oleh pihak-pihak pro-Israel melalui buzzers dan jaringan konten berbayar.

⚖️ Wacana, Warga, dan Wawasan: Menjadi Muslim Cerdas di Era Digital

Dalam khazanah fiqih klasik, khabar (berita) harus datang dari tsiqah (sumber terpercaya), dan harus ma’qul al-ma’na (masuk akal). Maka setiap kali kita membuka notifikasi, seharusnya kita bertanya: “Apakah ini berasal dari tsiqah?”, bukan hanya “Apakah ini viral?”

Apalagi ketika kabar itu berkaitan dengan isu Palestina, geopolitik Timur Tengah, atau kebijakan nasional. Di sini, umat Islam wajib menempatkan dirinya bukan sebagai korban informasi, tetapi sebagai khalifah nalar—yang berpikir, memverifikasi, dan menyaring.

?️ Rekomendasi dan Seruan Moral:

Wajibkan Literasi Digital di Sekolah dan Pemerintahan
Sudah saatnya kita menjadikan literasi digital sebagai bagian dari kurikulum dan pelatihan ASN. Informasi yang salah dapat merusak lebih dalam daripada senjata.

  1. Evaluasi Media Lokal dan Nasional
    Jangan biarkan media lokal hanya menjadi duplikat media nasional yang bias. Banyuwangi harus punya kanal informasi independen dan jujur.
  2. Pilih Sosial Media yang Berimbang dan Terbuka
    FORJASIB merekomendasikan penggunaan platform yang masih menjunjung nilai objektivitas seperti “X”, dan menghindari platform yang terindikasi tidak netral secara geopolitik.
  3. Tegaskan Etika dalam Pengelolaan Notifikasi
    Pemerintah harus mengatur dan mengawasi strategi notifikasi media nasional agar tidak menciptakan “teror informasi” harian yang membuat warga lelah dan apatis.

?️ Penutup: Literasi Digital adalah pertaruhan Nalar Kita

Masih diantara pasca Hari Raya Qurban, kita belajar bahwa pengorbanan sejati bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego, nafsu, dan hawa yang membuat kita malas berpikir.

Maka, qurban informasi adalah saat ketika kita menyaring setiap kabar dengan kesadaran, bukan sekadar membagikannya karena emosi.

Karena jika kita terus membiarkan informasi palsu menyebar, maka kita sedang menyembelih kebenaran dengan tangan kita sendiri.

CWW
Founder FORJASIB & Praktisi Hukum Technology & Bisnis di cww-Lawtech