0 4 min 4 minggu

Oleh: Budi Kurniawan Sumarsono, A.Md., ST., SH. (Founder cww lawtech)

Kita hidup dalam kurun waktu yang tidak biasa. Dunia sedang bergerak cepat, melampaui sekadar kemajuan teknologi menuju sebuah transformasi peradaban yang mendalam—era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Perubahan ini tidak hanya menyentuh aspek teknis kehidupan, tetapi juga menggugat ulang konsep tentang kerja, pendidikan, etika, bahkan relasi sosial manusia. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan memasuki era AI, tetapi bagaimana kita akan hadir di dalamnya: sebagai pelaku, penonton, atau korban?

AI Sebagai Paradigma Baru Kehidupan

Kecerdasan buatan telah bertransformasi dari sekadar topik riset laboratorium menjadi tulang punggung sistem digital global. Dari sektor keuangan hingga kesehatan, dari transportasi hingga layanan publik, AI menjadi elemen tak terpisahkan dari desain kehidupan modern. Dalam praktik sehari-hari, banyak orang bahkan telah berinteraksi dengan AI tanpa menyadarinya—melalui media sosial, sistem navigasi, chatbot, rekomendasi belanja daring, dan berbagai bentuk personalisasi digital.

Namun, pemahaman publik terhadap teknologi ini masih kerap terjebak pada euforia permukaan. Kita merayakan kecepatan dan efisiensi, tetapi sering mengabaikan kompleksitas etika, kesenjangan akses, dan potensi disrupsi sosial yang menyertainya. Inilah sebabnya mengapa kita membutuhkan pendekatan yang lebih reflektif, lintas-disiplin, dan berbasis nilai dalam menyambut era AI.

Tantangan Nyata di Era AI

Berdasarkan berbagai observasi lapangan dan analisis literatur, terdapat sejumlah tantangan besar yang harus direspons secara sistematis:

  1. Kesenjangan Akses dan Infrastruktur Digital
    Meski penetrasi internet meningkat secara global, distribusinya tetap timpang. Kelompok masyarakat di wilayah marjinal, baik secara geografis maupun ekonomi, masih tertinggal dalam mengakses teknologi dan manfaat AI.
  2. Disrupsi Ketenagakerjaan
    Pekerjaan dengan rutinitas tinggi berisiko besar digantikan oleh otomatisasi. Tanpa skema pelatihan ulang (reskilling) yang serius, AI bisa memperluas jurang pengangguran dan memperparah ketimpangan sosial.
  3. Etika dan Privasi Data
    Kecerdasan buatan membawa risiko baru dalam pengelolaan data pribadi, manipulasi informasi, dan bias algoritmik. Sayangnya, kesadaran publik terhadap isu ini masih rendah, dan regulasi yang ada belum mampu mengikuti laju inovasi.
  4. Kesiapan Institusional dan Pendidikan
    Banyak institusi pendidikan belum memiliki kurikulum adaptif yang mengintegrasikan literasi AI, logika algoritmik, serta dimensi etika digital. Padahal, masa depan teknologi akan ditentukan oleh generasi yang sedang duduk di bangku sekolah hari ini.
  5. Resistensi Sosial Budaya
    Tidak semua masyarakat menerima kehadiran AI dengan tangan terbuka. Di banyak tempat, teknologi masih dianggap sebagai entitas asing yang mengancam kearifan lokal dan nilai-nilai kemanusiaan.

Membumikan AI: Teknologi yang Membebaskan, Bukan Mengganti

Dalam menghadapi realitas ini, penting untuk menekankan bahwa AI harus dilihat sebagai alat, bukan tujuan. Ia hadir bukan untuk menggantikan manusia, tetapi memperkuat kapasitas manusia dalam berpikir, mencipta, dan berinteraksi. Untuk itu, diperlukan pendekatan kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial, pendekatan pendidikan yang mengedepankan nilai, serta kolaborasi lintas sektor yang tidak hanya fokus pada inovasi, tetapi juga pada inklusivitas.

Kita perlu menumbuhkan semangat literasi teknologi yang tidak elitis, tetapi membumi. Literasi yang bukan sekadar mengajarkan cara memakai aplikasi, tetapi mengajak masyarakat memahami bagaimana sebuah sistem bekerja, berpikir kritis terhadap algoritma, dan berani bertanya: Siapa yang diuntungkan dari teknologi ini? Siapa yang tertinggal?

Menata Ulang Masa Depan Secara Kolektif

AI bukan sekadar masa depan, ia adalah realitas hari ini. Namun, arah dari realitas ini tidak akan ditentukan oleh teknologi itu sendiri, melainkan oleh nilai-nilai yang kita pilih untuk menyertainya. Kita bisa memilih menjadi masyarakat yang hanya sibuk mengejar efisiensi, atau menjadi peradaban yang menempatkan martabat manusia di atas logika algoritma.

Era AI menuntut kita untuk tidak sekadar adaptif, tetapi juga berdaulat. Ini adalah saatnya membangun kerangka kerja sosial, pendidikan, dan kebijakan yang progresif sekaligus etis—agar AI menjadi simbol kemajuan yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

 

“Karena teknologi tanpa nilai hanyalah mesin. Dan peradaban tanpa etika hanyalah kehampaan yang dikemas dalam kecanggihan”. CWW