Oleh: CWW (Bukan STRUKTURAL NU,hanya punya KARTANU)
Pagi itu, Stadion Gajayana Malang bukan sekadar arena berkumpul. Ia berubah menjadi ruang sejarah. Di sanalah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menegaskan satu hal penting: NU tidak hanya besar karena jumlah, tetapi karena nilai yang terus dijaga. Dan pidato KH Abdul Hakim Mahfud menjadi porosnya. Di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, jajaran pimpinan negara, ulama, tokoh lintas agama, hingga ratusan ribu warga Nahdliyin, KH Abdul Hakim Mahfud tidak menyampaikan pidato seremonial. Ia menyampaikan narasi peradaban—tentang NU, negara, dan amanat abad kedua.
NU, Tradisi, dan Stadion yang Menjadi Saksi
Ada simbol yang tidak boleh diabaikan. Stadion Gajayana, stadion tertua di Indonesia yang genap berusia 100 tahun, dipilih sebagai lokasi. Di tempat ini, NU—organisasi yang juga memasuki usia satu abad—menegaskan jati dirinya: menjaga tradisi sambil menatap masa depan.
KH Abdul Hakim Mahfud menggarisbawahi bahwa kebersamaan pagi itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari ikhtiar, keikhlasan, dan keguyuban warga NU Jawa Timur yang datang dengan tenaga, biaya, dan doa. Inilah wajah NU yang sesungguhnya: bergerak tanpa gaduh, bekerja tanpa pamrih.
Toleransi yang Nyata, Bukan Sekadar Slogan
Pidato ini menjadi semakin bermakna ketika KH Abdul Hakim Mahfud menyampaikan apresiasi kepada berbagai elemen masyarakat Malang. Muhammadiyah yang menyiapkan konsumsi, sekolah-sekolah yang membuka fasilitas, hingga gereja-gereja yang menggeser jadwal kebaktian demi kelancaran mujahadah. Ini bukan narasi toleransi normatif. Ini toleransi yang bekerja di lapangan. NU tidak berteriak soal pluralisme, NU mempraktikkannya. Diam-diam, tapi berdampak.
Ulama dan Umara: Bukan Simbol, Tapi Substansi
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto ditegaskan bukan sebagai formalitas kenegaraan. KH Abdul Hakim Mahfud menyebutnya sebagai kehadiran substantif—simbol menyatunya ulama dan umara dalam satu tujuan: kejayaan bangsa.
Relasi ini tidak dibingkai sebagai hubungan kuasa, melainkan hubungan amanah. Presiden sebagai pemegang mandat demokrasi, dan NU sebagai penjaga moral publik. Keduanya bertemu bukan untuk saling menundukkan, tetapi saling membersamai.
Di titik ini, pidato KH Abdul Hakim Mahfud terasa jujur dan dewasa. Tidak ada sanjungan berlebihan, tidak pula jarak dingin. Yang ada adalah kesadaran bahwa bangsa ini hanya bisa melangkah jika nilai keagamaan dan kekuasaan negara berjalan seimbang.
Kanun Asasi: Kitab Etik yang Terlupakan?
Bagian paling reflektif dari pidato ini adalah ketika KH Abdul Hakim Mahfud mengajak seluruh warga NU kembali membuka Kanun Asasi—mukadimah Qanun Asasi yang ditulis langsung oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari pada 1926.
Di sana ditegaskan bahwa NU berdiri di atas prinsip keadilan, keamanan, perdamaian, dan kebaikan. Sebuah kalimat yang sederhana, namun menghantam kesadaran kita hari ini: NU terasa manis bagi orang baik, tapi terasa sesak bagi orang yang berniat jahat. Pidato ini lalu mengajukan pertanyaan yang sunyi namun tajam: Sudahkah para pemimpin dan warga NU benar-benar mengamalkan nilai-nilai itu, atau sekadar menghafalnya?
Dakwah yang Menyembuhkan, Bukan Melukai
KH Abdul Hakim Mahfud menekankan kembali metode khas NU: petuah yang menyembuhkan, dakwah yang menyelamatkan, dan argumen yang kuat. Ini adalah kritik halus terhadap dakwah yang gemar menghakimi, membenturkan, dan memproduksi kebencian.
NU tidak dilahirkan untuk memenangkan konflik, tetapi untuk menjaga peradaban tetap manusiawi. Pesan ini terasa relevan di tengah era media sosial yang gemar memelintir agama menjadi alat adu emosi.
NU di Abad Kedua, Jalan Terang atau Jalan Pintas?
Pidato KH Abdul Hakim Mahfud adalah ajakan untuk tidak tergesa di abad kedua. Besarnya NU justru menuntut kehati-hatian. Semakin besar jam’iyah, semakin besar pula godaan untuk menyimpang dari nilai awal.
NU, kata pidato ini, harus tetap menjadi jalan cahaya—bagi warganya, bagi negara, dan bagi kemanusiaan.
Dan pagi itu di Stadion Gajayana, NU tidak sekadar merayakan usia. NU sedang mengukur dirinya sendiri: masihkah setia pada cinta, rukun, persatuan, dan ikatan jiwa raga seperti yang diwasiatkan para pendirinya?
“Jawabannya tidak ada di podium. Jawabannya ada pada cara NU berjalan setelah acara usai.”
