Dialektika Tan Malaka versus Pragmatisme D.N. Aidit
Oleh: CWW — Budi Kurniawan Sumarsono
Selama hampir tiga dekade mengamati dinamika politik dan historiografi Nusantara, satu fenomena yang terus menarik perhatian adalah komparasi pemikiran dua tokoh penting gerakan kiri Indonesia: Ibrahim Datuk Tan Malaka dan Dipa Nusantara Aidit.
Kendati sama-sama berakar pada tradisi Marxisme, keduanya mengejawantahkan dialektika politik yang berbeda, baik dalam epistemologi, konstruksi kebangsaan, maupun praksis revolusi. Pertentangan tersebut tidak semata-mata dapat dibaca sebagai friksi internal gerakan kiri, tetapi juga sebagai gambaran perbedaan cara membaca realitas Indonesia, strategi perjuangan, serta hubungan antara ideologi, organisasi, dan kekuasaan.
Tan Malaka: Marxisme, Logika, dan Kemerdekaan
Pada tataran filsafat dan epistemologi, Tan Malaka memperlihatkan corak pemikiran yang khas melalui karya Madilog—singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika.
Tan Malaka berupaya mengembangkan pemikiran materialisme dan dialektika dengan mempertimbangkan kondisi sosial Indonesia. Pemikirannya juga memiliki dimensi kebangsaan yang kuat melalui gagasan Merdeka 100%, yang menempatkan kemerdekaan bukan sekadar sebagai perubahan status politik, tetapi sebagai persoalan kedaulatan bangsa.
Dalam Gerpolek—Gerilya, Politik, Ekonomi—Tan Malaka menghubungkan perjuangan politik dengan strategi gerilya dan kemandirian ekonomi.
Di sinilah karakter pemikirannya menjadi menarik: revolusi tidak hanya dipahami sebagai perebutan kekuasaan, tetapi juga sebagai proses membangun kemandirian bangsa.
Aidit: Organisasi, Massa, dan Strategi Politik
Sementara itu, D.N. Aidit tampil dalam konteks politik yang berbeda. Sebagai pemimpin PKI, Aidit mengembangkan strategi politik yang menempatkan organisasi, konsolidasi massa, dan perjuangan melalui ruang politik sebagai instrumen penting.
Konsepsi Jalan ke Demokrasi Rakyat serta strategi Front Persatuan Nasional menunjukkan bagaimana PKI berusaha membangun basis politik melalui berbagai kelompok sosial, mulai dari buruh dan tani hingga kelompok sosial lainnya.
Pada era Demokrasi Terpimpin, dinamika tersebut kemudian bertemu dengan konfigurasi politik NASAKOM—Nasionalisme, Agama, dan Komunisme—yang dikembangkan oleh Soekarno.
Dengan demikian, pendekatan Aidit lebih menonjolkan kapasitas organisasi dan konsolidasi politik sebagai instrumen untuk mencapai tujuan revolusioner.
Dua Jalan Membaca Revolusi
Perbedaan Tan Malaka dan Aidit menjadi semakin menarik ketika dilihat dari hubungan antara ideologi dan praksis politik.
Tan Malaka menempatkan kemerdekaan nasional dan kemandirian politik sebagai bagian penting dari revolusi. Ia cenderung kritis terhadap kompromi politik yang dianggap dapat mengurangi substansi kemerdekaan.
Aidit, di sisi lain, mengembangkan strategi melalui pembangunan organisasi massa dan keterlibatan dalam konfigurasi politik yang tersedia.
Dengan kata lain, Tan Malaka lebih menonjolkan kemandirian gagasan dan politik, sedangkan Aidit memperlihatkan pentingnya organisasi, disiplin, dan konsolidasi kekuatan massa.
Namun, menyederhanakan Tan Malaka sebagai idealis dan Aidit sebagai pragmatis juga berisiko menghilangkan kompleksitas sejarah keduanya.
Sejarah politik tidak pernah bekerja dalam ruang yang steril.
Setiap strategi lahir dari konteks zamannya.
Ketika Ideologi Berhadapan dengan Kekuasaan
Dari perspektif politik, perbedaan tersebut memperlihatkan satu persoalan fundamental: bagaimana sebuah gagasan diterjemahkan menjadi kekuatan politik?
Tan Malaka memperlihatkan pentingnya keberanian berpikir secara independen, bahkan ketika pemikiran tersebut berhadapan dengan arus utama gerakan.
Aidit memperlihatkan sisi lain: gagasan politik membutuhkan organisasi yang mampu mengonsolidasikan massa dan mengubah ideologi menjadi kekuatan politik nyata.
Di sinilah terdapat pelajaran penting.
Gagasan tanpa organisasi dapat kehilangan daya politik. Sebaliknya, organisasi tanpa ruang kritik dapat kehilangan kemampuan melakukan koreksi.
Karena itu, sejarah Tan Malaka dan Aidit tidak cukup dibaca sebagai pertentangan dua tokoh.
Ia merupakan cermin tentang hubungan antara ideologi, organisasi, negara, masyarakat, dan kekuasaan.
Membaca Sejarah Tanpa Kultus
Bagi generasi sekarang, membaca Tan Malaka dan Aidit tidak harus berarti menghidupkan kembali pertarungan ideologis masa lalu.
Justru sebaliknya.
Sejarah harus menjadi ruang untuk menguji gagasan.
Kita dapat mempelajari keberanian intelektual Tan Malaka tanpa harus menerima seluruh konstruksi politiknya. Kita juga dapat mempelajari kemampuan organisasi yang diperlihatkan Aidit tanpa harus mengabaikan berbagai kontroversi sejarah yang mengiringi perjalanan PKI.
Inilah kedewasaan dalam membaca sejarah.
Tokoh sejarah tidak harus ditempatkan sebagai pahlawan tanpa cela atau musuh tanpa konteks.
Mereka harus dibaca melalui gagasan, tindakan, konteks zaman, serta konsekuensi politik yang ditimbulkannya.
Spektrum kiri Indonesia tidak pernah benar-benar tunggal.
Di dalamnya terdapat perdebatan mengenai kemerdekaan, kelas sosial, organisasi, negara, ekonomi, strategi revolusi, dan hubungan dengan kekuasaan.
Tan Malaka dan D.N. Aidit merupakan dua pintu untuk memahami kompleksitas tersebut.
Tan Malaka mengingatkan pentingnya kemandirian berpikir dan kedaulatan politik.
Aidit memperlihatkan pentingnya organisasi, konsolidasi, dan strategi politik.
Bagi Indonesia hari ini, pelajaran terpentingnya bukan memilih salah satu di antara keduanya.
Yang lebih penting adalah memahami bagaimana gagasan dapat membentuk institusi, bagaimana institusi dapat membentuk kekuasaan, dan bagaimana kekuasaan harus tetap berada dalam ruang kritik publik.
Sebab sejarah yang matang bukan sejarah yang hanya mengajarkan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Sejarah yang matang mengajarkan mengapa sebuah gagasan lahir, bagaimana ia bekerja, dan apa konsekuensinya bagi masyarakat.
—CWW (Budi Kurniawan Sumarsono)
Founder CWW LAWTECH
Pemerhati hukum, tata kelola, kebijakan publik, dan dinamika sosial
